2 bulan lagi Sofia berusia 2 tahun…
Tahun lalu tak diiringi pesta, makan2 keluarga atau bagi2 makanan ke tetangga. Ayah dan ibu Sofia mengikuti seminar “Meningkatkan Kecerdasan dan Kreativitas Anak” bersama dr. Isman Jafar SpA dan Kak Seto. Padahal ibu mertua sudah pesen pada pembantu supaya bikin nasi kuning, tapi aku juga sudah pesen kalo tak ada acara istimewa di tahun pertama Sofia.
Wajah-wajah kecewa itu berdatangan dari tetangga. Mereka membicarakan pesta ulang tahun Sofia setiap hari menjelang hari H. Berharap akan adanya undangan. Namun pucuk dirindu ulam tak tiba rupanya. Ya mereka kecewa. Setiap bertemu, ibunya Sofia ditanyain “Kok ga dirayain ultahnya?” Ibunya Sofia hanya menjawab, “Sedang berhemat bu.” Tak lupa tersenyum polos menghadapi orang-orang yang berkerut-kerut keningnya akibat nyaris tak percaya bahwa kami tak merayakan ulang tahun Sofia. Maklum dari pengalaman tantenya Sofia acara pesta diadakan besar-besaran setiap tahun. Mulai dari temen sekolah, teman-teman sekampung rumah baru hingga sekampung rumah baru (plus ortu tentunya) menghadiri pestanya (Tapi sekarang udah ga dirayain lagi karena anaknya udah besar). Aku dan suami juga hanya beralasan ‘sedang berhemat’ pada ibu mertua. Alhamdulillah ibu mertuaku luar biasa pengertian.
Sofia, anak ayah ibu yang shalihah…
Tahun lalu, tahun ini dan tahun – tahun berikutnya kita tak merayakan ulang tahun, Cantik. Bukan karena ayah ibu tak sayang pada Sofia. Bukan…. Namun karena ayah ibu sangaaat sayang pada Sofia. Tak ingin Sofia terjatuh ada perkara yang sangat Allah ‘Azza wa Jalla dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam benci.
^^^^^^^^^^
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apakah perayaan ulang tahun anak termasuk tasyabbuh (tindakan menyerupai) dengan budaya orang barat yang kafir ataukah semacam cara menyenangkan dan menggembirakan hati anak dan keluarganya ?
Beliau menjawab : Perayaan ulang tahun anak tidak lepas dari dua hal : dianggap sebagai ibadah, atau hanya adat kebiasaan saja.
Kalau dimaksudkan sebagai ibadah, maka hal itu termasuk bid’ah dalam agama Allah. Padahal peringatan dari amalan bid’ah dan penegasan bahwa dia termasuk sesat telah datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda yang artinya, “Jauhilah perkara-perkara baru. Sesungguhnya setiap bid’ah adalah sesat. Dan setiap kesesatan berada dalam Neraka”.
Namun jika dimaksudkan sebagai adat kebiasaan saja, maka hal itu mengandung dua sisi larangan.
Pertama. Menjadikannya sebagai salah satu hari raya yang sebenarnya bukan merupakan hari raya (‘Ied). Tindakan ini berarti suatu kelalancangan terhadap Allah dan RasulNya, di mana kita menetapkannya sebagai ‘Ied (hari raya) dalam Islam, padahal Allah dan RasulNya tidak pernah menjadikannya sebagai hari raya.
Saat memasuki kota Madinah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapati dua hari raya yang digunakan kaum Anshar sebagai waktu bersenang-senang dan menganggapnya sebagai hari ‘Ied, maka beliau bersabda yang artinya, “Sesungguhnya Allah telah menggantikan bagi kalian hari yang lebih baik dari keduanya, yaitu ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha”.
Kedua. Adanya unsur tasyabbuh (menyerupai) dengan musuh-musuh Allah. Budaya ini bukan merupakan budaya kaum muslimin, namun warisan dari non muslim. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Barangsiapa meniru-niru suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka”.
(Maka berhati-hatilah Nak karena tak jarang sesuatu dalam hatimu mengikuti perilakumu. Mulanya mungkin engkau hanya ingin bersenang2 dan menolaknya dalam hati. Tapi kemudian nafsumu membisikkan keraguan2 dan alasan demi alasan untuk mebenarkan peilakumu. Dan akhirnya engkau mengikuti kekafiran.)
Beliau melanjutkan nasihatnya….
Kemudian panjang umur bagi seseorang tidak selalu berbuah baik, kecuali kalau dihabiskan dalam menggapai keridhaan Allah dan ketaatanNya. Sebaik-baik orang adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalannya. Sementara orang yang paling buruk adalah manusia yang panjang umurnya dan buruk amalanya. Karena itulah, sebagian ulama tidak menyukai do’a agar dikaruniakan umur panjang secara mutlak. Mereka kurang setuju dengan ungkapan : “Semoga Allah memanjangkan umurmu” kecuali dengan keterangan “Dalam ketaatanNya” atau “Dalam kebaikan” atau kalimat yang serupa. Alasannya umur panjang kadangkala tidak baik bagi yang bersangkutan, karena umur yang panjang jika disertai dengan amalan yang buruk -semoga Allah menjauhkan kita darinya- hanya akan membawa keburukan baginya, serta menambah siksaan dan malapetaka.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (kearah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui. Dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana amat teguh”. [Al-A'raf : 182-183]
Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang artinya, “Dan janganlah sekali-kali orang kafir menyangka bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah labih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka, dan bagi mereka adzab yang menghinakan”. [Ali-Imran : 178]
^^^^^^^^^^^
Apakah dengan tidak merayakan ulang tahun Sofia hanya mendapatkan sedikit hadiah?
Tidak Sayang. Justru jika engkau merayakan pesta ulang tahun, engkau hanya dapat hadiah satu kali dalam setahun. Tapi jika Sofia tidak merayakannya, Sofia akan banyak dapat hadiah dari Allah, bisa jadi lewat ayah ibu. Ada hadiah ‘iedul fitri, hadiah rajin shalat, hadiah tuntas puasa sehari, hadiah hapalan surat Al-Quran dan doa, hadiah jalan-jalan bersama ayah di akhir pekan, dan masiiiih banyak lagiiii…. Sofia pilih hadiah yang sedikit atau yang banyak. Pasti mau yang banyak kaaan. Ibu dan ayah sayang Sofia karena Allah…
Sumber : Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin diambil dari almanhaj.or.id www.almanhaj.or.id/content/1584/slash/0
