Di antara manusia ada yang berbuat dosa siang dan malam. Tersembunyi, bahkan terkadang terang-terangan. Seakan hidupnya hanya untuk kemaksiatan dan kejahatan. Anehnya, orang-orang itu hidup dalam kemewahan dan kenikmatan tiada taranya. Tak perlu engkau iri atau kagum terhadap mereka, saudariku dan bacalah firman Allah subhanahu wa Ta’ala yang artinya,
“Nanti kami akan menarik mereka berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dengan cara yang tidak diketahui. Dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat teguh.” (Q.S. Al A’raf : 182-183)
Sungguh Allah tak membiarkan orang-orang yang berbuat dosa begitu saja tanpa siksa. Bahkan orang-orang tersebut berada dalam siksa terus-menerus namun mereka tidak menyadarinya. Yaitu matinya hati dan kelalaian dari siksaan hakiki yang menimpa kondisi imannya.
Namun hamba yang terbuai dengan kemaksiatannya tak menyadari akan siksa yang menimpanya. Bahkan dia melihat badannya semakin sehat, hartanya semakin banyak, kekuasaan dan popularitas pun menanjak. Ia terus-menerus melanjutkan dan menambah kejahatannya sehingga ia semakin dimurkai oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Maka Allah pun menambah siksanya dengan mengharamkan keindahan bermunajat kepadaNya, ia akan lalai beribadah dan melakukan perbuatan yang bermanfaat bagi dirinya di dunia dan akhirat.
Dalam hadits ‘Ubadah bin Ash-Shamit, dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika Allah menghendaki sebagian (anugerah-Nya) pada suatu kaum, maka dibukakan bagi mereka pintu kemurahan-Nya, hingga apabila mereka gembira dengan apa yang dengan apa yang diberikan, lalu dicabut dengan sekonyong-konyong, mereka pun tiba-tiba berputus asa.”
Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya, “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu kesenangan untuk mereka, sehingga apabila nereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. Maka orang-orang yang zhalim itu dimusnahkan samapi ke akar-akarnya. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.” (Q.S. Al-an’am : 44-45)
Sebagian ulama berkata, “Jika kamu memperhatikan bagaimana Allah subhanahu wa Ta’ala menganugerahkan karunia-Nya kepada engkau, sedangkan engkau sosok manusia yang berlumuran dosa terus-menerus, maka ingatlah itulah yang namanya istidraj (Allah subhanahu wa ta’ala membiarkan dan memberi tangguh sementara), nanti engkau pasti merasakan akibatnya.
Hendaklah seorang hamba yang bergelimang dosa dan kemaksiatan tidak terpedaya dan terlena dengan kenikmatan lahiriah. Karena hal itu sebenarnya merupakan cobaan dan ancaman bagi dirinya. Istidraj baginya. Hanya penangguhan sementara. Sungguh Allah akan menyiksanya dengan azab yang pedih dan sungguh Allah Maha Kuasa akan azab yang ditimpakan kepadamu. Kapan pun, di mana pun, dalam bentuk apa pun. Bisa jadi dalam bentuk kehilangan harta, kekuasaan, teman, keluarga, sebagian anggota badan bahkan nyawa di dunia. Belum lagi azab kubur dan azab api neraka yang menanti kelak di akhirat.
Sama sekali Allah tidak lalai akan dosa dan kejahatan yang telah kita perbuat. Juga sepatah kata kita ucapkan pasti tercatat dalam kitab amalan oleh malaikat. Karenanya kembalilah pada Allah, wahai hamba Allah…
Diringkas dengan sedikit tambahan dari Bab Orang-Orang Berdosa yang Ditangguhkan Adzabnya dari buku Peringatan Bagi Orang Yang Berbuat Maksiat karya Dr. Amir Sa’id Az-Zibary (Terjemahan dari Tanbiihul ‘Aashy Ilaa Tarkil Ma’ashy) terbitan Pustaka Azzam tahun 2001.
