Breastfeeding (end) : Jalan yang Terbaik

Teringat saat aku pertama kali melahirkan, dokterku memberikan obat pelancar ASI yang fungsinya untuk mengoptimalkan produksi ASI. Hmm waktu aku memiliki masalah menyusui pun, aku sempat diresepkan obat
pelancar ASI dengan merek berbeda. Tapi ternyata kedua obat paten tersebut
sama-sama mengandung ekstrak plasenta.

Tahukah, kawan… plasenta itu merupakan makanan yang diharamkan masuk ke tubuh seorang muslim, karena termasuk dalam kategori bangkai.
Ekstraknya pun diharamkan karena unsur utama obat yang dimaksudkan untuk memberikan khasiat tersebut adalah plasenta, sekalipun telah tercampur dengan zat tambahan.

Waktu itu aku sempat bingung dan khawatir apakah ASI-ku akan
benar-benar lancar apalagi si kecil juga memiliki masalah bingung puting. Aku
tak bisa menyusuinya selama 2,5 bulan sementara efek samping susu formula
benar-benar terasa berat oleh putriku. ASI Perah-ku pun semakin hari semakin
sedikit.

Aku teringat setiap hari harus mencatat berapa ASI Perah dan sufor yang kuberikan pada si kecil agar aku tahu apakah sufor tersebut sudah memenuhi kebutuhannya. Ah betapa melelahkannya.

Aku ingin sekali meminum obat itu. Tapi ada keraguan dalam hatiku. Apakah ini memang kondisi darurat di mana aku bisa meminumnya ataukah aku hanya bermudah-mudahan mencari jalan pintas dengan sesuatu yang Allah haramkan. Bagaimana nanti jadinya jika anakku meminum sesuatu yang haram. Bagaimana nantinya jika Allah justru menahan ASI-ku karena aku berobat dengan sesuatu yang haram… Teringatlah sebuah hadits…

“Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dengan obatnya, dan menciptakan obat untuk segala penyakit. Maka berobatlah, tetapi jangan menggunakan yang haram.” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud]

Lalu kupikir lagi apakah ada obat lain yang bisa menyembuhkanku? Maka aku pun beristighfar…

“Ya Allah aku berlindung padaMu dari syirik yang aku ketahui dan aku mohon ampun atas syirik yang tidak aku ketahui.”

Bagaimana mungkin aku bergantung pada obat untuk menyembuhkanku? Bukanlah obat yang menyembuhkanku, tapi Allah semata. Sedangkan obat hanyalah wasilah….

“Dan apabila aku sakit, maka Dia (Allah) akan memberikan kesembuhan..” (Asy-Syu’ara : 80)

Alhamdulillah saat itu seorang teman bernama Anik Rahmawati meneleponku dan menyarankanku untuk meminum habbatus sauda’. Jazahallahu ahsanala jaza. Maka dengan berpegang pada satu ayat “Innahu man yattaqillaha yaj’allahu makhrajan” aku pun berikhtiar dengan habbatus sauda’. Semoga dengan wasilah yang halal, Allah mengabulkan harapanku untuk bisa lancar menyusui.

Alhamdulillah ketika musibah ini datang, aku diringankan dari mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Jadi bisa konsen belajar menyusui. Dr. DM memang berpesan agar aku belajar menyusui dan tidak mengerjakan pekerjaan rumah dulu. Soalnya memang ribet kalo mau menyusui harus pasang-pasang selang NGT dulu di payudara, harus nyiapin sufor dulu, harus tekan-tekan syringe segala^^ Pokoknya belajar menyusui dari nol karena kasus bingung puting itu susah masyaallah^^ Eh maaf ni tidak bermaksud vulgar… beliau juga menyarankan untuk melepas bra selama proses belajar supaya melancarkan aliran darah ke payudara juga mencegah pembengkakan. Selain itu juga melakukan pijat di punggung karena kondisi relaks bisa melancarkan ASI. Yah aku coba semuanya. Semangat!!

Aku juga berusaha menjalankan nasehat dr. WN. Aku pun berusaha banyak makan, melipat gandakan jumlah protein untuk meningkatkan kualitas ASI-ku. Pertama kalinya makan, pengen nangis karena eneg banget di perut. Tapi kan demi Sofia^^ Abis makan, minum susu. Hiks, rasanya full banget di perut. Waktu itu aku benar-benar ga peduli sama berat badanku^^ udah lebih 1 kg dari rentang BB ideal lho, tetapi Alhamdulillah suamiku selalu memberiku dukungan untuk optimalisasi ASI buat si kecil dulu. Masalah ngurusin badan nanti bisa menyusul. Toh kalo bisa menyusui, juga membantu menguruskan badan^^ Setelah itu minum habbatus sauda’ 2 pil 3 kali sehari sambil berdoa agar Allah memberiku kemudahan menyusui dengan WASILAH yang Rasulullah sunnahkan sebagai obat segala macam penyakit. Aku juga minum banyak air. Setiap jam minum 1-2 gelas air. Wuih sampai pipis-pipis terus^^ Banyak juga makan sayur bening dan kuahnya, khususnya daun katuk. Selain itu aku juga makan bubur kacang hijau yang banyak kandungan proteinnya.

Saat malam tiba, aku merah ASI terus. Lama2 bisa dapat 1-2 botol, 1 botol sekitar 200 ml. Ni termasuk sedikit daripada ibu2 yang udah
biasa merah ASI samapai 1 liter sehari^^ Sebagian buat dimasukin ke syringe,
sebagian lagi dibuang karena takut nyimpennya ga bagus dan jadinya basi.

Seminggu berselang setelah kami bertemu dr. WN, aku memutuskan untuk kembali menemui beliau lagi. Aku sudah hampir selesai tapering down sufornya. Tapi sofianya jadi rewel terus, nenen terus, mungkin karena ASI-ku kurang.

“Beberapa waktu lalu udah pernah konsul di sini ya? Apa ada masalah?” Tanya dr. WN.

“Iya dok, ini sudah saya kurangi 10 ml tiap hari sufornya tapi kok sofianya jadi rewel. Nangis dan minta nenen terus. Saya khawatir ASI-nya tidak cukup. Apalagi minggu ini Sofia control dengan dr. W. Kata dr. W, Sofia belum optimal posisi menyusuinya, areolanya masih kurang yang masuk ke mulut.”

“Tenang bu. Sofia kan sedang adaptasi, sedang belajar. Rewel itu biasa. Nanti lama2 juga akan terbiasa. Masalah posisi menyusui, sofia juga masih adaptasi. Tapi saya liat untuk kasus bingung putting sofia cepat bisa menyusu. Ayo ibu Mutia pasti bisa. Yang penting PD dan Rileks.”

Dengan saran suami, tapering down-nya diperlambat jadi 5 ml
tiap beberapa hari. Dan ternyata sofia lebih nyaman dan mudah beradaptasi.
Alhamdulillah saat usianya 4 bulan aku dah bisa menyusui eksklusif^^ ASI saja!!

Oh ya, karena Sofia is special case, jadi dr. W spA memintaku datang rutin tiap bulan untuk control. Saat usianya 5 bulan, ketahuan deh menyusuinya tidak sukses karena berat badan Sofia masih kurang dari yang diharapkan. Mungkin karena ASInya masih kurang ya. Dengan berat hati, dr. W menyarankan mulai pemberian biskuit 1 kali sehari trus ditingkatkan jadi 2 kali sehari. Waktu itu aku terpukul dan sediiih banget.

Adakalanya seseorang tak mendapatkan sesuai yang
diharapkan betapa pun keras usahanya karena Allah hendak menambahkan dan  menyempurnakan pahala kesabarannnya. Jalan yang terbaik memang tak selalu mudah.

Sofia, maafkan ibu nak. Ibu belum bisa memberi yang terbaik
buat Sofia. Ibu akan terus belajar dan belajar agar bisa menjadi ibu yang baik
buat Sofia. Ibu sayang Sofia karena Allah^^ Sayaaaang sekaliiii…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.